Meeting Results: Lansia di Buleleng Diduga Dihipnotis, Duit Rp 80 Juta dan Emas 100 Gram Raib
Table of Contents
Lansia di Buleleng Diduga Dihipnotis, Uang Rp 80 Juta dan Emas 100 Gram Raib
Polisi Investigasi Kasus Pemalsuan Identitas
Meeting Results – Korban mengaku tidak menyadari perbuatan pelaku hingga kehilangan sejumlah uang dan perhiasan emas. Kanit I Pidum Satreskrim Polres Buleleng Iptu Ketut Yulio Saputra mengungkapkan bahwa sementara ini, polisi menyoroti kemungkinan modus hipnotis sebagai penyebab hilangnya barang milik NIH. “Korban merasa tidak melakukan tindakan yang memicu kehilangan harta benda, sehingga tim penyelidik mempertimbangkan hipnotis sebagai alat penipuan,” katanya, Sabtu (2/5/2026). Kasus ini terjadi di area Singaraja, pada Senin (27/4). Awalnya, NIH disebut terlibat dalam pertemuan di toko optik. Menurut saksi, korban dan pelaku sempat berbicara di tempat tersebut sebelum berpindah ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Polisi menyatakan bahwa aksi pelaku terjadi secara bertahap, mengarah ke rumah korban di akhir proses.
Rekaman CCTV Jadi Bukti Penting
Berdasarkan video yang diunggah di media sosial, terlihat NIH melakukan transaksi di teller BPR. Saat itu, seorang perempuan bermasker mengawasi korban dari jarak dekat. Polisi mencurigai bahwa individu tersebut adalah pelaku utama. “Rekaman menunjukkan korban tampak tenang dan mengikuti arahan pelaku tanpa menunjukkan kecurigaan,” jelas sumber dari detikBali. Selain itu, polisi menemukan beberapa indikasi bahwa aksi ini tidak dilakukan sendirian. Ada dugaan keterlibatan minimal satu orang lainnya dalam menyukseskan pencurian. “Modus ini mungkin membutuhkan kerja tim untuk mengelabui korban,” tambah Kanit Yulio.
Pertemuan di Toko Optik Menjadi Titik Awal
Menurut sementara informasi yang didapat, pertemuan NIH dengan pelaku dimulai di toko optik. Lokasi ini diduga menjadi tempat mereka berkomunikasi sebelum melangkah ke BPR. “Korban mungkin diiming-imingi imbalan besar atau teknik psikologis untuk mengurangi kehati-hatian,” papar saksi. Dalam penyelidikan, polisi menyebut bahwa tim telah meminta keterangan dari korban, staf BPR, dan pegawai toko optik. Setiap pihak memberikan pernyataan yang saling melengkapi. Sementara itu, CCTV di BPR menangkap momen korban memasukkan kartu dan melakukan penarikan. “Tindakan korban terlihat normal, tetapi pelaku menggerakkan satu tindakan yang membuatnya lengah,” tutur sumber.
Pelaku Diduga Menggunakan Teknik Hipnotis
Modus hipnotis dalam kasus ini menjadi fokus utama. Teknik ini digunakan untuk mengendalikan pikiran korban agar tidak menyadari perbuatan pelaku. “Dugaan sementara menunjukkan bahwa pelaku menggunakan hipnotis untuk membuat korban rileks sebelum mencuri,” ujar Kanit Yulio. Dalam investigasi, polisi juga menganalisis kemungkinan korban mengalami efek hipnotis di tempat pertemuan awal. “Individu yang dianggap sebagai pelaku berpakaian rapi dan tidak menunjukkan tanda-tanda kejahatan saat berinteraksi dengan korban,” terang sumber.
Kerugian Korban Diperkirakan Rp 380 Juta
Seluruh kerugian yang dialami NIH mencapai Rp 380 juta, termasuk uang tunai sebesar Rp 80 juta dan emas 100 gram. “Total kehilangan mencakup barang berharga dan uang yang disimpan di rumah korban,” kata Kanit Yulio. Selama penyelidikan, polisi menemukan bahwa perhiasan emas merupakan bagian dari kerugian utama. “Benda-benda tersebut hilang tanpa korban menyadari perubahan,” tambahnya.
Keterlibatan Saksi dan Proses Investigasi
Sementara itu, polisi telah memeriksa beberapa saksi yang menjadi pengamat langsung atau tak langsung terhadap aksi tersebut. Termasuk korban, karyawan BPR, serta pegawai toko optik. “Setiap keterangan membantu memperjelas langkah-langkah pelaku,” ujar Kanit Yulio. Dalam wawancara, korban mengatakan bahwa pelaku terlihat sangat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda penipuan. “Apa yang terjadi seolah-olah saya hanya mengikuti instruksi tanpa memikirkan apa yang terjadi,” ungkap NIH.
Langkah Selanjutnya dan Penyelidikan Lanjutan
Polisi masih menelusuri kemungkinan adanya pelaku tambahan yang membantu tindakan hipnotis. “Kami sedang memeriksa saksi-saksi lain dan membandingkan riwayat transaksi korban,” jelas Kanit Yulio. Selain itu, tim penyidik juga menyelidiki apakah ada keterlibatan teknologi atau bantuan dari luar. “Misalnya, alat hipnotis atau bantuan dari pihak ketiga untuk menyukseskan aksi ini,” tambahnya. Pihak kepolisian berharap bisa segera mengungkap identitas pelaku. “Kami ingin mengetahui detail modus ini untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan,” pungkas Kanit Yulio.
Penjelasan Singkat Modus Hipnotis
Hipnotis dalam konteks kejahatan sering digunakan sebagai alat untuk mengendalikan emosi korban. Teknik ini membuat korban merasa nyaman dan tidak waspada. “Pelaku mungkin menyiapkan lingkungan yang tenang sebelum menipu,” kata sumber dari Polri. Menurut sumber, hipnotis dalam kasus ini bisa dilakukan melalui alat tertentu atau teknik komunikasi yang khusus. “Dalam beberapa kasus, korban diberi instruksi lisan atau melalui pandangan mata yang terus-menerus,” jelasnya.
Konsekuensi dan Langkah Pemulihan
Setelah kehilangan barang, korban meminta bantuan dari polisi untuk menyelidiki. “Saya sangat terkejut karena tidak menyadari apa yang terjadi,” kata NIH. Selama penyelidikan, polisi juga memastikan tidak ada tindakan penyimpangan dari korban. “Korban tidak memiliki niat untuk mencuri, sehingga pelaku mendapat keuntungan dari kepercayaan tersebut,” terang sumber. Dalam upaya pemulihan, polisi berharap bisa menemukan bukti yang mengarah ke pelaku. “Kami sedang memeriksa semua kemungkinan, termasuk hubungan korban dengan pihak tertentu,” tambah Kanit Yulio.
Perkembangan Terkini dan Penilaian Masyarakat
Kasus ini telah menjadi perbincangan di media sosial. Warga Singaraja mengungkapkan kekecewaan terhadap kehilangan barang berharga milik lansia. “Korban pasti tidak terduga akan terjadi pencurian seperti ini,” ujar seorang warga. Sementara itu, polisi memberikan penjelasan bahwa hipnotis bukanlah hal yang mustahil. “Teknik ini bisa diaplikasikan dengan cara yang halus dan terencana,” kata sumber.
Dengan adanya bukti dari CCTV dan keterangan saksi, penyelidikan terus berjalan. Polisi menargetkan penyelesaian kasus dalam beberapa minggu ke depan. “Kami yakin bisa menemukan pelaku dengan cepat,” harap Kanit Yulio.
Kasus ini juga memberikan pelajaran bahwa kehati-hatian diperlukan saat berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal. “Apalagi dalam situasi yang terlihat normal, tetapi ada tujuan tersembunyi,” tambah sumber.
Para ahli psikologi juga mengungkapkan bahwa tekn
