Heboh Pria India Bawa Kerangka Adik ke Bank Gegara Gagal Tarik Tabungan

Heboh Pria India Bawa Kerangka Adik ke Bank Gegara Gagal Tarik Tabungan

Heboh Pria India Bawa Kerangka Adik – Seorang pria dari wilayah India timur, khususnya negara bagian Odisha, memicu perhatian publik setelah membawa sisa jenazah adiknya ke sebuah bank. Aksi ini dilakukan setelah ia mengalami kesulitan dalam mengambil dana yang tersimpan di rekening adiknya. Menurut laporan dari BBC, Rabu (29/4/2026), video dari kejadian ini viral di media sosial dan memicu kemarahan masyarakat.

Kasus yang Membawa Sorotan Nasional

Dalam video yang beredar, pria bernama Jitu Munda (52 tahun) terlihat membawa bagian tubuh adiknya ke loket bank. Pria tersebut mengklaim bahwa tindakan ini dilakukan untuk membuktikan kematian adiknya. Namun, pihak bank menolak mengakui kerangka tersebut sebagai bukti resmi, menyebutkan bahwa prosedur tarik tunai memerlukan dokumen yang sah.

“Saya membawa jenazah adik saya karena tak bisa lagi menarik uangnya. Bank meminta bukti kematian, tapi saya tidak memiliki dokumen yang diperlukan,” ujar Munda dalam wawancara dengan media lokal.

Kasus ini terjadi di distrik Keonjhar pada hari Senin (27/4/2026). Munda mengatakan bahwa ia telah berusaha mengakses dana adiknya beberapa kali, tetapi selalu ditolak oleh pihak bank. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil jenazah adiknya sendiri sebagai bukti, meskipun ia tidak memiliki surat keterangan kematian resmi.

Konflik antara Pemilik Rekening dan Bank

Pihak bank menyatakan bahwa mereka hanya meminta dokumen yang dibutuhkan secara hukum, seperti surat keterangan meninggal dunia dan identitas ahli waris. Munda, di sisi lain, mengaku tidak memiliki salinan dokumen tersebut. Ia mengklaim bahwa jenazah adiknya sudah disimpan di dalam tanah, tetapi ia memutuskan untuk menggali kembali bagian tubuhnya untuk membawa ke bank.

Polisi mengonfirmasi bahwa Munda melakukan pencarian jenazah adiknya secara manual. Mereka menyatakan bahwa pria tersebut menggali kembali jenazah wanita itu dan membawanya ke loket bank sebagai upaya membuktikan kematian. Meski demikian, bank menegaskan bahwa mereka tidak pernah meminta kerangka adik Munda secara langsung.

Pengakuan dan Penolakan

Bank mengatakan bahwa prosedur penarikan tabungan memerlukan bukti kematian yang valid, seperti surat keterangan dari dokter atau perangkat berwenang. Munda mengakui bahwa ia belum mampu memenuhi persyaratan tersebut, sehingga memutuskan untuk membawa kerangka adiknya sebagai solusi alternatif.

Dalam pernyataan resmi, bank menyebutkan bahwa insiden tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran dari Munda tentang prosedur yang diharuskan. “Kami hanya meminta dokumen yang dibutuhkan secara hukum, bukan kerangka jenazah,” kata perwakilan bank dalam wawancara dengan media.

Kritik dan Kecemasan Publik

Aksi Munda mendapat sorotan luas dari masyarakat India, dengan banyak pihak mengecam ketidakpuasan dan kebingungan yang dialaminya. Beberapa orang menilai bahwa bank tidak cukup sensitif terhadap kebutuhan warga yang tidak terdokumentasi secara sempurna. Sebaliknya, ada yang mengkritik Munda karena mengambil langkah ekstrem tanpa pertimbangan lebih matang.

Kasus ini juga mengungkapkan kelemahan dalam sistem layanan keuangan di daerah tersebut. Pemilik rekening yang tidak memiliki dokumen resmi sering kali kesulitan mengakses dana, terutama jika mereka mengalami keadaan darurat. Menurut perwakilan bank, uang di rekening adik Munda telah diserahkan ke ahli waris yang sah, tetapi tidak ada bukti bahwa Munda adalah orang yang berhak mengambil dana tersebut.

Komitmen untuk Perbaikan

Setelah kejadian tersebut, Menteri Pendapatan Odisha, Suresh Pujari, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki kasus ini. Ia menegaskan bahwa tindakan akan diambil terhadap manajer cabang yang dianggap bersalah. “Kami akan memeriksa proses penarikan tabungan dan melihat apakah ada kesalahan dalam pengelolaan,” ujar Pujari.

Administrasi distrik Keonjhar juga mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap insiden ini. Mereka menyebut bahwa perlindungan hak dan martabat warga adalah prioritas utama. “Kami akan memastikan bahwa prosedur yang adil diterapkan dalam kasus ini,” tambah perwakilan distrik.

Sementara itu, pihak bank menegaskan bahwa mereka tidak menyalahkan Munda, tetapi hanya ingin memastikan bahwa penarikan dana dilakukan secara sah. “Kami memahami kekesalan warga, tapi sistem ini harus tetap dipertahankan untuk menghindari penyalahgunaan,” kata perwakilan bank.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana kebutuhan warga kecil dapat menjadi sorotan besar, terutama ketika mereka menghadapi hambatan dari institusi seperti bank. Munda mengakui bahwa ia merasa tertekan karena tidak bisa menarik dana yang menjadi milik adiknya, tetapi ia yakin bahwa jenazah adiknya adalah bukti yang memadai.

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai pihak mulai mendorong perubahan dalam prosedur penarikan tabungan, terutama untuk kasus yang tidak memiliki dokumen kematian. Para ahli hukum mengatakan bahwa sistem ini bisa lebih fleksibel, sementara masyarakat mengharapkan kebijakan yang lebih manusiawi. “Kasus ini menunjukkan bahwa ada celah dalam sistem kita, dan kami perlu memperbaikinya,” kata salah satu aktivis keuangan lokal.

Kemarin, publik kembali mengingatkan pihak bank dan otoritas setempat agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Sejumlah warga mengatakan bahwa mereka juga pernah mengalami kesulitan serupa, tetapi tidak berani mengambil tindakan yang sama karena takut dianggap terlalu emosional.

Penutup dan Kesimpulan

Kejadian yang terjadi di Odisha tidak hanya menghebohkan warga setempat, tetapi juga menjadi bahan diskusi nasional. Dengan adanya kasus ini, kebijakan mengenai pengambilan dana dari rekening yang sudah meninggal mungkin akan di-review kembali. Munda sendiri mengharapkan keadilan, meskipun ia sadar bahwa tindakannya mungkin terkesan ekstrem. “Saya hanya ingin mengambil uang adik saya. Jika bank tidak bisa membantu, saya harus mencari cara lain,” katanya.