Table of Contents
Lebih 700 Tanker Antre, Aliran Minyak di Selat Hormuz Turun 86 Persen
Istanbul (ANTARA) – Aliran kapal pengangkut minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan drastis akibat meningkatnya ancaman keamanan, yang menyebabkan kegiatan pelayaran mendekati penghentian. Saat ini, lebih dari 700 kapal tanker terpantau menunggu di kedua sisi jalur strategis tersebut. Selat Hormuz, yang berada di ujung Teluk Persia, menjadi jalan utama distribusi minyak dan gas alam cair dari wilayah Timur Tengah ke pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Kaper, perusahaan data analisis, mencatat bahwa pada 27 Februari, 21 juta barel minyak diangkut oleh 15 kapal tanker. Angka ini naik menjadi 21,6 juta barel saat 18 kapal melintas pada Sabtu. Namun, pada 1 Maret, hanya tiga kapal yang membawa 2,8 juta barel melintasi selat, menunjukkan penurunan 86 persen dibandingkan rata-rata tahunan 19,8 juta barel.
Kecepatan pengiriman yang tiba-tiba menurun mencerminkan pembelahan logistik sebelum risiko keamanan meningkat, lalu hampir berhenti total saat situasi memburuk. Sampai hari ini, 706 kapal tanker non-Iran tercatat menunggu di berbagai posisi di Teluk Persia (barat), Teluk Oman (timur), serta Laut Arab. Dari jumlah tersebut, 334 kapal mengangkut minyak mentah, 109 kapal berisi produk minyak kotor, dan 263 kapal mengangkut produk minyak bersih.
Strategi Pemutusan Jalur
Berkurangnya keberangkatan ke arah timur melalui Selat Hormuz, ditambah antrean panjang kapal, diperkirakan memperlambat kedatangan kargo dan mendorong kenaikan biaya pengangkutan. Selain itu, keterlambatan keluar masuk perairan ini berpotensi mengganggu rantai pasok global.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengirimkan peringatan kepada kapal yang beroperasi di Teluk Persia, menyatakan bahwa tidak ada kapal yang akan diizinkan melintasi selat. Meski ada klaim bahwa pesan tersebut disiarkan melalui frekuensi panggilan VHF Channel 16, belum ada pernyataan resmi mengonfirmasi penutupan formal jalur ini.
Media Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz secara efektif telah tertutup. Sejumlah kapal kontainer terlihat berbalik arah untuk menghindari zona risiko, sementara perusahaan pelayaran utama global menghentikan rute melalui selat akibat peningkatan ancaman keamanan. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) dalam pernyataannya, Minggu (1/3), menyatakan bahwa tingkat risiko maritim di selat dinaikkan ke level kritis setelah beberapa serangan terhadap kapal komersial tercatat di Teluk Oman dan perairan pesisir Uni Emirat Arab.
