Berita

Mama-mama Weri & Saharey Olah Daging Buah Pala Jadi Sirup dan Teh Rempah

mama-mama-weri-saharey-olah-daging-buah-pala-jadi-sirup-dan-teh-rempah-1792232880283_169
Foto : Emily Thomas - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Olahan Pala Buka Peluang Usaha Baru bagi Mama-Mama Weri dan Saharey
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Olahan Pala Buka Peluang Usaha Baru bagi Mama-Mama Weri dan Saharey

Ceritaberkat.com – Bagian daging buah pala yang sebelumnya kerap dibiarkan membusuk di bawah pohon kini mulai dipandang sebagai bahan bernilai ekonomi di Kampung Weri dan Saharey. Melalui pelatihan yang diberikan Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (UNHAS), warga perempuan dari dua kampung tersebut belajar mengubahnya menjadi sirup pala serta teh rempah untuk dipasarkan.

Selama ini, warga setempat lazim menyebut daging buah pala sebagai “kulit” karena posisinya menyelubungi biji pala. Pemanfaatannya belum banyak dilakukan, sehingga bagian tersebut sering kali dibuang setelah bijinya diambil. Kondisi itu dirasakan langsung oleh Wantamo, warga Kampung Saharey asal Buton.

“Kalau kulitnya ini, dibuang saja di bawah pohon. Saya sendiri belum tahu manfaatnya ini mau bikin apa, tidak tahu,” ujar Wantamo dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).

Pelatihan ini menawarkan cara pandang baru terhadap hasil kebun pala. Nilai jual pala tidak semata berada pada bijinya, tetapi juga dapat dibangun melalui pengolahan bagian buah yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Dengan produk turunan, warga memiliki kesempatan memperoleh pendapatan tambahan tanpa harus hanya mengandalkan penjualan bahan mentah.

Pelatihan Bertahap dari Produk hingga Pemasaran

Program tersebut dipimpin Tim 2 Ekspedisi Patriot UNHAS dengan Prof Makkarennu, PhD, sebagai ketua tim. Ia menerangkan bahwa kegiatan ini berangkat dari gagasan “satu pohon banyak manfaat”, yakni memaksimalkan potensi setiap bagian pala, khususnya daging buah yang selama ini terbuang.

“Masyarakat di sana memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada hanya sekadar menjual biji pala,” ujar Prof Makkarennu.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada proses memasak atau mencampur bahan. Warga diperkenalkan secara bertahap pada pembentukan kelembagaan usaha, pembuatan produk, pengendalian kualitas, pengemasan, hingga perencanaan strategi bisnis. Tahapan tersebut penting agar produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, melainkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi warga.

Sirup pala dipilih sebagai materi awal karena bahan baku dan cara pembuatannya dinilai lebih mudah dipelajari. Setelah peserta memahami proses tersebut, pelatihan dilanjutkan dengan pembuatan teh rempah berbahan daging buah pala. Sekitar 20 mama-mama dari Kampung Weri dan Saharey mengikuti kegiatan ini.

Dalam pelaksanaannya, Tim 2 Ekspedisi Patriot UNHAS didampingi LSM Wewo Lestari. Organisasi tersebut telah memiliki pengalaman mendampingi masyarakat dalam pengolahan pala di wilayah lain, sehingga dapat membantu warga memahami proses produksi secara lebih praktis.

Warga Siapkan Produksi Saat Panen Tiba

Antusiasme peserta terlihat dari kesiapan mereka mengumpulkan bahan baku secara mandiri. Saat musim panen pala berlangsung pada pertengahan Oktober, warga berencana mulai memproduksi sirup dan teh rempah di kampung masing-masing. Masing-masing kampung juga telah menyiapkan nama merek untuk produk yang akan dibuat.

Keinginan melanjutkan usaha setelah pendampingan berakhir disampaikan Marlin Kolatfeka dari Kampung Weri. Bagi para ibu di kampung tersebut, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi awal kegiatan produktif yang terus berjalan dan mendukung kebutuhan keluarga.

“Saya di sini berharap, kami ibu-ibu Weri, ketika kakak-kakak sudah pulang, kami bisa melanjutkan usaha ini untuk kehidupan kami,” kata Marlin.

Marlin turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Transmigrasi RI karena telah menghadirkan mahasiswa hingga ke wilayah yang jauh dari Jakarta. Kehadiran pendamping dinilai memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenali potensi yang ada di sekitar mereka serta belajar mengelolanya menjadi produk.

Pengolahan daging pala menjadi sirup dan teh rempah juga menunjukkan pentingnya nilai tambah di tingkat kampung. Ketika komoditas dijual hanya dalam bentuk mentah, peluang pengembangan produk berada di luar tangan petani. Sebaliknya, proses pengolahan di dekat sumber bahan baku memungkinkan warga ikut mengambil bagian lebih besar dalam manfaat ekonomi dari hasil kebunnya.

Sejalan dengan Dorongan Hilirisasi Produk Rakyat

Inisiatif di Weri dan Saharey sejalan dengan arah pemerintah untuk memperkuat pengolahan hasil pertanian di dalam negeri. Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa bahan mentah tidak seharusnya menjadi satu-satunya bentuk produk yang dijual masyarakat.

“Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY juga menilai pembangunan kawasan transmigrasi perlu mencakup penguatan ekonomi warganya. Infrastruktur fisik, dalam pandangannya, perlu berjalan bersama inovasi serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,” kata AHY.

Bagi warga Weri dan Saharey, pengolahan pala bukan hanya soal menciptakan rasa baru dari hasil kebun. Kegiatan itu membuka kemungkinan agar bagian buah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat menjadi bahan usaha. Keberlanjutan produksi, penjagaan mutu, ketersediaan bahan baku, dan kemampuan memasarkan produk akan menjadi bagian penting dari langkah berikutnya.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara memandang pendampingan semacam ini sebagai bukti bahwa potensi yang kerap terabaikan dapat berubah menjadi sumber penghasilan ketika dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan.

“Segala sesuatu yang dinilai oleh masyarakat biasa tidak ada harganya, oleh orang-orang yang berilmu, berpengetahuan bisa dibantu untuk menghasilkan sesuatu produk menjadi uang,” pungkasnya.

Dengan persiapan produksi mandiri dan identitas merek di masing-masing kampung, mama-mama Weri dan Saharey kini memiliki pijakan awal untuk menjadikan daging buah pala sebagai produk olahan bernilai jual. Dari bagian yang dahulu dibuang, tumbuh peluang usaha yang diharapkan dapat bertahan setelah masa pelatihan selesai.

Frequently Asked Questions

What is Mama mama Weri Saharey Olah Daging?

Mama mama Weri Saharey Olah Daging is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mama mama Weri Saharey Olah Daging matter?

Mama mama Weri Saharey Olah Daging matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.