sejarah agama protestan

Agama Kristen di Dunia banyak mengalami reformasi, perkembangan sejarah agama kekristenan telah banyak mengayomi penganutnya dan menjadi saksi perjalanan reformasi agama Kristen sejak abad Pertama Masehi hingga keseluruhan dunia, banyak tokoh-tokoh dalam perjuangan yang terlibat dalam kebaktian ajaran Yesus Kristus. Ajaran Yesus kristus menyatukan semua umat kristen di bawah agama Katolik dengan paus sebagai pemimpinnya. Ringkasan tentang Sejarah Gereja Katolik dapat dilihat pada sub bagian artikel ini. Terjadinya Gerakan reformasi melibatkan perpecahan pada gereja Katolik. Pasalnya kebijakan gereja dianggap sudah menyimpang dari ajaran Alkitab. Pergolakan agama, intelektual dan budaya atas gereja Katolik yang pada akhirnya melahirkan Protestanisme yang di sebut juga dengan sejarah gereja Protestan.

 7 Fakta Penting Sejarah Gereja Protestan

Pada tahun 1517 dimasa abad ke-16 terlahir salah satu aliran dalam agama kristen yang disebut dengan Gereja Protestan. Sejarah gereja ini bermula dari seorang imam Katolik bernama Martin Luther yang menentang beberapa ajaran dan praktik gereja Katolik pada saat itu, terutama terkait dengan kekuasaan dan otoritas paus.

Martin Luther mengajukan 95 dalilnya yang dikritik terhadap praktik-praktik Gereja Katolik pada pintu Gereja Katedral Wittenberg pada 31 Oktober 1517. Tindakan ini memicu perdebatan dan perpecahan dalam Gereja. Luther dan para pendukungnya, yang disebut Lutheran, menuntut adanya reformasi dalam Gereja Katolik yang melibatkan penolakan terhadap praktik-praktik yang mereka anggap tidak sesuai dengan ajaran Alkitab.

Istilah Protestan merujuk kepada surah “reformasi Protestan” yang disampaikan oleh para pembesar yang mendukung pernyataan Martin Luther, melawan keputusan Diet Speyer pada tahun 1529. Sejak gerakan inilah, Martin Luther dan pengikutnya memisahkan diri dari Gereja Katolik.  

Reformasi Protestan

Reformasi Protestan yang di pelopori oleh Martin Luther, yang kemudian di ikuti oleh setiap pengikutnya yaitu John Calvin, Ulrich Zwingli dan Henry. Gerakan ini mengkritik otoritas kepausan dan mempertanyakan berbagai penyalahgunaan dan ketidaksesuaian Gereja Katolik sebagai pusat polItik dan budaya kekristenan di Eropa.

Gerakan reformasi umat kristiani Eropa yang menjadikan Protestanisme sebuah cabang tersendiri dalam agama Kristen, sebagai upaya untuk mereformasi gereka Katolik di perkasai oleh umat Katolik barat yang menetang hal-hal yang menurut anggapan mereka adalah dokrin-dokrin palsu dan para praktik gerejawi khususnya ajaran dan penjualan indugensi. Ia juga miliki konsekuensi politik dan sosial yang signifikan, termasuk pengembangan negara-negara dan pertumbuhan individualisme dan demokrasi.

Martin Luther dan 95 Tesis

Salah satu tokoh penting dalam agama Kristen adalah Martin Luther sebagai imam Katolik jerman yang menjadi tokoh sentral dalam gerakan reformasi Protestan pada abad ke-16 sekaligus sebagai pendiri gereja Protestan. Pada tanggal 31 Oktober 1517, Lutfer mengajukan serangkaian argumen atau pernyataan kritis yang dikenal sebagai “95 Tesis” yang ditujukan kepada gereja dan otoritas gereja Katolik pada masa itu. Martin Luther mengirim 95 Tesis ini kepada Uskup Agus Mainz, untuk disampaikan kepada para otoritas gereja Katolik dan paus sebagai pemimpin Gejera tersebut saat itu.

Inti dari 95 Tesis adalah penentang terhadap praketek penjualan indulgasi oleh Gereja Katolek. Indulgasi merupakan pengampunan dosa yang diberikan oleh gereja melalui pembayaran uang. Luther merasa bahwa pratik ini menjadi penyalahgunaan  ajaran pengampunan dan memperkaya gereja dengan cara yang tidak sesuai dengan ajaran Al-Kitab. 

Sejarah Gereja Protestan

Lutfer juga menyuarakan agar para pemimpin gereja lebih fokus pada pengajaran firman Allah dan pengembangan rohani umat dari pada mengumpulkan uang dari hasil penjualan indulgasi. Isi lainnya dari 95 Tesis merupakan, Luther menyuarakan pemurnian gereja dan penolakan praktik-praktik yang tidak di dukumng oleh Al-Kitab, seperti penyembahan berhala dan penghormatan terhadap orang-orang suci. Ia mengusulkan agar Gereja Katolik kembali ke ajaran dan otoritas Alkitab sebagi satu-satunya sumber kebenaran.

Peristiwa pengajuan 95 Tesis oleh Luther dianggap sebagai titik awal Reformasi Protestan dan memiliki dampak yang signifikan dalam sejarah Gereja dan masyarakat Eropa. Luther dan pengikut-pengikutnya membantu membentuk gereja-gereja Protestan yang berbeda-beda dan mendorong perubahan besar dalam kehidupan keagamaan, politik, dan sosial di Eropa pada masa itu.

Baca juga :  Wajib Tahu! 8 Ringkasan Tentang Sejarah Gereja Katolik

Pemisahan dari Gereja Katolik

Pada isi 95 Tesis Marti Luther, tidak secara langsung mengajukan pemisahan dari Gereja Katolik. Diketahui pada masa itu Luther berusaha untuk memicu perubahan dan reformasi dalam Gereja Katolik yang ia yakini telah menyimpang dari ajaran Alkitab.

Sebagai hasil dari perdebatan tersebut yang terjadi pada ketidaksediaan Gereja Katolik terhadap pandangan Luther mengakibatkan terjadinya perpecahan. Pemisahan resmi antara gerakan reformasi Protestan dan Gereja Katolik di mulai pada saat itu. 

Akibat dari perpisahan tersebut, memiliki berbagai faktor dan peristiwa yang berperan dalam pemisahan yang lebih luas antara Gereja Katolik dan Gereja Protestan, salah satunya terjadinya perang agama yang melanda Eropa. Selain itu terbentuklah beberapa gereja Protestan yang mandiri, seperti Gereja Lutheran, Gereja reformis, Gereja Anglikan dan Gereja-Gereja lainnya. 

Banyaknya Gereja yang terjadi dari reformasi Protestan ini miliki arti ajaran yang sama, namun ada beberapa perbedaan yang terdapat pada ajaran Gereja Protestan dan Katolik. Gereja Katolik dan Gereja Protestan memiliki perbedaan yang signifikan dalam beberapa aspek kunci. Gereja Katolik mengakui otoritas tertinggi Paus sebagai pewaris Petrus dan menganggapnya memiliki otoritas spiritual dan infalibilitas dalam pengajaran iman. Sedangkan, Gereja Protestan menekankan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya sumber yang mengikat dalam iman dan praktik mereka. Mereka melihat Alkitab sebagai otoritas tertinggi yang harus membimbing ajaran dan kehidupan gereja.

Perang Agama

Perang agama yang melanda Eropa pada abad ke-16 dan ke-17 yang melibatkan antara penganut Protestan dan Katolik di tahun 1648 atau dikenal sebagai perang tiga puluh tahun. Konflik ini melibatkan sejumlah besar negara dan kekuatan Eropa yang berawal dari perselisihan agama dan politik yang kompleks.

Konflik ini miliki akan yang kompleks, termasuk kedatangan agama penganut Protestan dan Katolik serta pertempuran kekuasaan berbagai negara dan penguasa. Perang ini di mulai dari pemberontakan Bohemia pada tahun 1618, di mana kaum Protestan kerajaan Bohemia memberontak terhadap kekuasaan Katolik. Perang tersebut menyebabkan kerusakan yang parah di wilayah Eropa Tengah. 

Pada tahun 1648, perang tersebut akhirnya berakhir dengan adanya penandatanganan perjanjian Wastphalia, di mana perjanjian pengakuan keberagaman agama di Eropa dan memberikan pengakuan resmi terhadap agama Protestan. Perjanjian ini juga mengubah struktur politik Eropa dan mengakhiri dominasi politik agama dalam urusan negara. 

Gerakan Puritan

Sejarah Gereja Protestan juga mendatangkan gerakan puritan, yang disebut dengan kaum puritan dari inggris pada abad ke-16 dan 17 adalah kumpulan sejumlah kelompok keagamaan yang memperjuangkan “kemurnian” doktrin dan tata cara peribadatan. Begitu juga pada kesalehan seseorang.

Misi Protestan

Reformasi Protestan yang memiliki misi mengacu pada upaya dan aktivitas oleh gereja-gereja Protestan utnuk penyebaran ajaran Kristen ke berbagai wilayah di seluruh dunia. Misi ini melibatkan pengiriman dan pelayanan para misionaris Protestan yang bertujuan untuk memperkenalkan injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Salah satu tujuan reformasi Protestan pada abat ke-16 dalah untuk mengembalikan ajaran dan praktik gereja yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Keyakinan akan pentingnya pemberitahuan injil dan pemusatan tugas Greet Commission (perinta Yesus untuk pergi dn membuat murid di seluruh dunia) menjadi salah satu dorongan utama di balik misi Protestan.

Perkembangan Denominasi

Dalam sejarah, pada abad ke-16 selama masa reformasi Protestan Gereja Katolik Roma dan para pemimpin gereja tradisional sering mengutuk dan mendemonisasikan para reformasi Protestan. Mereka menganggap gerakan tersebut sebagai ancaman terhadap otoritas dan ajaran Gereja Katolik yang mapan. Paus dan pihak gereja resmi secara terbuka menyatakan bahwa gerakan Reformasi adalah bidah, sesat, atau bahkan di ilhami oleh Setan. Banyak para reformator, termasuk Martin Luther, John Calvin, dan Ulrich Zwingli, dipandang sebagai penyebar bidah atau musuh Gereja Katolik.

Perkembangan demonisasi terhadap Protestan telah berkurang seiring berjalannya waktu, konteks sosial, politik, keagamaan yang lebih inklisif serta semangkin meningkatnya dialog ekumenis telah berkontribusi dalam mengurangi sikap negatif dan penghakiman terhadap Protestan. Meskipun begitu, masih terdapat perbedaan dan ketegangan antara aliran-agama yang berbeda di beberapa tempat di dunia.

Itulah perkembangan sejarah agama Protestan yang telah lama ada dalam ajaran Alkitab, semoga artikel bermanfaat untuk kita bisa lebih mengenal tentang bagian sejarah agama Kristen. 

By Cerita Berkat

Menggali potensi diri dan mengejar kesuksesan dengan mempraktikkan manfaat kebaikan dan menerapkan motto kehidupan inspiratif.