Pondok Pesantren tertua di Nusantara

Wisata Religi ziarah dan Silahturahmi di pondok pesantren tertua. Tentu perjalanan rohani dan pertemuan akrab di Pondok Pesantren tertua di Nusantara selalu menjadi momen yang istimewa bagi warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat sekitarannya.

Ziarah dan silaturrahmi dengan para awliya bukanlah hal yang asing bagi mereka. Bagi generasi muda, ini bukan hanya kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk merenung sejarah dan memberi penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan dan leluhur kita.

Dalam artikel ini kita akan menggali kisah inspirasi dari tokoh pejuang pesantren yang dikenal sebagai pesantren tertua hingga Asia Tenggara. Kisah ini menjadi bagian dari warisan yang tak ternilai.

Mari kita simak sejenak beberapa tokoh inspirasi agama pendiri pesantren tersebut, di antaranya:

Tokoh pejuang dan Pondok pesantren tertua di Asia tenggara

KH Anwari Siraj Payaman Magelang

KH Anwari Siraj Payaman Magelang
KH Anwari Siraj Payaman Magelang

Lahir pada tahun 1878 M di Payaman Magelang, KH Anwari Siraj, putra dari KH Siraj Abd Rasyid, adalah sosok ulama penuh karomah.

Beliau adalah teman seperguruan dari Hadratussyech KH Hasyim Asyari, ketika keduanya menimba ilmu di Makkah Al Mukarramah. KH Anwari Siraj juga bersamaan dengan Mbah Dahlar Watucongol Muntilan Magelang.

Bijaksana, sederhana, dan penuh dengan kata-kata lembut dalam berdakwah, beliau memiliki nasab yang terkait erat dengan Joko Tingkir melalui garis ibunya. Pencapaian luar biasa beliau adalah saat diberi gelar Romo Agung oleh Belanda karena berhasil menghalau awan panas dan lahar erupsi Gunung Merapi di Magelang, yang saat itu menjadi markas dan pusat pemerintahan gubernur Belanda.

Beliau juga rutin membaca kitab Buchori dan mengadakan pengajian seaman Buchoren serta membaca kitab Buchori setiap Ramadhan selama satu bulan penuh di Masjid Agung Payaman, sejak tahun 1937.

KH Nur Muhammad Salaman Magelang

KH Nur Muhammad Salaman Magelang
KH Nur Muhammad Salaman Magelang

KH Nur Muhammad Ngadiwongso adalah seorang ulama sakti dan pelatih spiritual, serta pernah menjadi Patih di Magelang. Pertemuan antara beliau dengan KH Ahmad Dalhar Watucongol Muntilan Magelang terjadi saat keduanya sedang menunaikan ibadah haji di Makkah. Mereka saling berkenalan dan bersahabat. Mbah Dahlar berjanji untuk bersilaturrahmi ke Salaman, dan janji itu terwujud suatu saat.

Peristiwa menarik terjadi saat Mbah Dahlar menghadiri undangan hajatan seorang hartawan dari desa Tirto Grabag Magelang bernama H. Buchori. Mobil mereka mogok di daerah Salaman, dan mereka menanyakan tentang rumah KH Nur Muhammad, yang ternyata berada cukup dekat. Mbah Dahlar dan H. Buchori akhirnya datang ke rumah KH Nur Muhammad, di mana mereka disambut dengan hidangan lezat hingga kenyang berhari-hari. Bahkan, H. Buchori menjadi begitu kenyang sehingga ia tidak makan selama 10 hari.

Tradisi wisata religi yang berpusat pada silaturrahmi dan tahlilan berkembang sebagai warisan dari peristiwa ini. Pembawa tarekat Syatariyah di Purworejo, KH Raden Imam Puro Baledono, juga menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan ini.

Mendirikan Pondok Pesantren Sidomulyo, yang sekarang dikenal sebagai Pondok Pesantren Al Islah, Kyai Imam Puro adalah keturunan ke-8 dari Joko Umbaran, kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Beliau memiliki karomah luar biasa, salah satunya terkait dengan shalat Jumat yang beliau lakukan di Makkah, meskipun jasadnya berada di Purworejo.

Baca juga :  Apa Saja Tradisi yang Akan Dilakukan saat 17 Agustus 2023?

Beliau hidup pada masa Perang Diponegoro 1825-1830 M dan wafat pada tahun 1880 M. Makamnya terletak di lereng bukit Geger Menjangan, Desa Candi Baledono, Purworejo. Pada setiap tanggal 14 Ruwah, ribuan jamaah thariqoh Syatariyah berkumpul di kompleks makam KH Imam Puro untuk mengikuti tahlilan sebelum melanjutkan ke Pondok Pesantren Al Islah Ngemplak untuk mengikuti haul.

Pondok Pesantren Tertua di Nusantara

Pondok Pesantren tertua di Nusantara juga menjadi bagian dari kisah-kisah menarik ini. Hingga saat ini pondok pesantren menajadi wisata religi ziarah dan menjadi tempat untuk menimba ilmu agama bagi para santri-santriwati di seluruh Indonesia.

Syech Abdul Kahfi Awwal Al Hasani, lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H atau 12 Juli 1424 M di Yaman, adalah keturunan ke-10 Syech Abdul Qadir Al Jaelani dan keturunan ke-23 Rasulullah Saw.

Beliau tiba di Jawa pada tahun 853 H atau 1448 M melalui pantai selatan, ketika Majapahit berada di ambang keruntuhan pada masa Prabu Brawijaya (1447-1451). Nama lengkapnya adalah As Syech As Sayid Muhammad Ishom Al Hasani, dan beliau merupakan dzuriyah Rasulullah dari Sayidina Hasan ra.

Mertuanya adalah Raden Fatah, Sultan Demak, dan putri Raden Fatah yang bernama Nur Thoyyibah dinikahi oleh Syech Abd Kahfi pada tahun 1469 M. Raden Fatah memberikan tanah perdikan kepada menantunya dengan perintah berbahasa Arab: “Tsuma Dha’u,” yang sulit diucapkan dalam bahasa Jawa, sehingga disebut Somalangu.

Syech Abdul Kahfi mendirikan Pondok Pesantren Al Kahfi pada tanggal 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M di Kebumen. Saat ini, Pondok Pesantren Al Kahfi dan sekolah Islam di sekitarnya berkembang pesat di bawah kepemimpinan KH Afifudin Chanif Al Hasani, yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah PCNU Kebumen. Gus Afif adalah keturunan ke-16 Syech Abdul Kahfi.

Nah, kita telah membahas kisah inspirasi yang datang dari para tokoh agama yang terkenal di Nusantara dan pondok pesantren tertua di Nusantara hingga saat ini memiliki sejarah yang kaya dan penuh inspirasi.

Para tokoh pendiri pesantren tersebut diantaranya seperti KH Nur Muhammad Ngadiwongso  dan  KH Hasyim Asyari bukan hanya ulama ulung, tetapi juga pribadi-pribadi yang memiliki karomah dan pengaruh besar dalam perkembangan agama dan kehidupan masyarakat.

Melalui kisah-kisah inspiratif ini, kita dapat merenungkan betapa pentingnya melestarikan warisan keagamaan dan mendukung pendidikan agama sebagai bagian integral dari budaya dan sejarah Nusantara. Pondok Pesantren tertua di Nusantara adalah saksi bisu perjuangan para pendiri dan pengikutnya dalam melestarikan agama Islam, nilai-nilai keadilan, dan semangat persaudaraan.

By Cerita Berkat

Menggali potensi diri dan mengejar kesuksesan dengan mempraktikkan manfaat kebaikan dan menerapkan motto kehidupan inspiratif.