Cara ibadah agama Yahudi

Pernah dengar tidak ada agama Yahudi? Agama ini sebagian besar di anut oleh penduduk Israel. Ada hal yang menarik untuk kita telusuri tentang persepsi cara ibadah agama Yahudi yang terbilang memiliki kesamaan dengan shalat umat Muslim.

Yudaisme telah muncul ribuan tahun lalu, ini merupakan salah satu agama tertua di dunia dengan tradisi yang kaya dan unik. Agama ini tidak hanya mengatur aspek kehidupan spiritual, tetapi juga membentuk inti dari identitas dan keberlangsungan komunitas Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Hingga saat ini, dalam ilmu teologi atau nilai-nilai ketuhanan agama Yahudi juga memiliki ajaran-ajaran yang masih dapat dijadikan sebagai bagian dari kekuatan yang menunjukkan indikator keberlanjutan Yahudi dalam agama. Salah satunya adalah masalah sembahyangnya.

Sejarah Singkat Agama Yahudi

Sepanjang sejarahnya, Agama Yahudi dan agama Islam tercatat dalam sejarah sebagai agama besar yang diakui dan di kelompokan dalam agama samawi. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan ajaran ketauhidan. Begitu pula dengan kaum yahudi.

Yahudi merujuk kepada para pengikut Syariat Taurat, kitab suci yang dibawa oleh Nabi Musa AS di Gunung Sanai. Syariat ini memuat berbagai hukum, perintah, dan ajaran moral yang mengatur kehidupan komunitas Yahudi. Taurat adalah dasar dari agama Yahudi, dan para pengikutnya, yang disebut Yahudi, memandangnya sebagai panduan spiritual mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, ada penyimpangan dalam praktek agama Yahudi, baik sebelum maupun setelah periode syariat Taurat. Hal ini terkadang disebabkan oleh faktor budaya, tekanan politik, atau interpretasi yang berbeda terhadap ajaran-ajaran Taurat.

Penyimpangan ini dapat ditemui dalam berbagai bentuk, termasuk dalam cara ibadah, ritual, dan pemahaman terhadap hukum-hukum Taurat.

Bagi komunitas Yahudi, mereka terus berusaha untuk mempertahankan akan keberlangsungan ajaran-ajaran kepercayaan dan tradisi mereka dalam menghadapi perubahan zaman.

Cara Ibadah Agama Yahudi

Dalam kitab kejadian Taurat menyebutkan kewajiban  ibadah agama Yahudi dengan sembahyang. Di alkitab juga di jelaskan tentang shalat sebagai berikut ”

Lalu berlututlah orang itu, dan sujud menyembah Tuhan”. (Kejadian 24:26);

“Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah Tuhan, serta memuji Tuhan, Allah tuanku Abraham”

“yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya”. (Kejadian 24:48)

Berikut adalah serangkaian praktik ibadah yang khas dan mendalam umat Yahudi :

Memakai Tallit dan Tefillin

Salah satu aspek penting dalam ibadah Yahudi adalah penggunaan tallit dan tefillin. Tallit adalah semacam selendang kecil yang dikenakan  sebagai selendang pada bagian pundak atau kepala pria Yahudi selama ibadah. Selendang ini memiliki benang dengan simpul khusus yang mewakili perintah-perintah Tuhan. Penggunaan tallit adalah penginggat kepada pemakainya akan ketaatan mereka kepada Allah dan hukum-hukum-Nya.

tallit sebagai selendang yang di gunakan umat Yahudi
tallit sebagai selendang yang di gunakan umat Yahudi

Kemudian dalam praktik ibadah Yahudi juga mengenakan pernak-pernik yang disebut dengan Tefillin.

 Tefillin yang i lilitkan di tangan kiri
Tefillin yang i lilitkan di tangan kiri

ini hanya digunakan khusus pada saat sembahyang pagi. Mereka dipakai di dua lokasi yang memiliki makna simbolis yang dalam pada kening dan pada lengan kiri.

 

Penempatan tefillin pada tangan kiri memiliki alasan yang signifikan, karena tangan kiri lebih dekat dengan jantung, mencerminkan kesetiaan dan ketaatan hati.

Tefillin terdiri dari dua bagian yaitu satu untuk tangan dan satu lagi untuk kepala. Untuk tefillin tangan, pemeluk agama Yahudi melilitkan tali tefillin ke lengan kiri mereka hingga mencapai jari-jari, dan mereka menempatkan kotak tefillin di atas lengan. Sedangkan untuk tefillin kepala, mereka memasangnya di kepala mereka dengan kotak tefillin ditempatkan di atas kening atau kening.

Baca juga :  3 Hal Penting Sejarah Hari Raya Waisak di Dunia dan Maknanya

Nah, tefellin itu sendiri adalah sebuah kotak kecil yang terbuat dari kulit yang mirip amulet. Di dalamnya, terdapat lembaran ayat-ayat Alkitab yang diulang dalam sembahyang. Praktek ini memiliki makna mendalam bagi pemeluk agama Yahudi, karena tefillin mengingatkan mereka akan komitmen mereka untuk mengikuti perintah-perintah Tuhan yang tertera dalam kitab suci mereka.

Praktik dengan mengunakan Tefillin yang diikatkan di kepala dan lengan mereka agar orang-orang Yahudi selalu ingat akan tugas-tugas dan tanggung jawab dalam melakukan praktik ibadah.

Sembahyang Tiga Kali Sehari

Sembahyang adalah salah satu syariat Yahudi yang penting dilakukan oleh umat Yahudi, dan biasanya mereka melakukannya secara berjamaah di rumah-rumah ibadah agama Yahudi.

Sembahyang umat Yahudi
Sembahyang umat Yahudi

Orang Yahudi melakukan sembahyang 3 kali sehari  yaitu Shacharit (pagi ) hari di pukul 09.00, Minchah (siang) di pukul 11.00, Maariv (sore) dipukul 15.00. Ketentuan ini dicatat dalam kitab Talmud

Saat melakukan sembahyang, mereka berdiri menghadap Yerusalem dan memulai sembahyang dengan “tefillah” atau “amidah” dan mengucapkan selawat sebanyak 19 kali. Amidah sering kali didahului dengan “shema,” yang merupakan Syahadah pertama dalam ajaran Yahudi. Kemudian, mereka melanjutkan dengan pujian kepada Tuhan dan mengakhiri dengan “alenu wajib,” sebuah doa yang wajib diucapkan.

Praktik sembahyang ini dapat dilakukan secara individu atau dalam berjamaah, yang biasanya dilakukan di tempat yang disebut Sinagoge. Ketika bersembahyang, arah kiblat mereka menghadap ke Baitul Maqdis, yang merupakan salah satu tempat suci dalam agama Yahudi.

Dalam sembahyang, mereka mengangkat kedua tangan ke arah langit sambil berdiri. Namun, ada juga yang melakukan sembahyang sambil duduk atau berlutut, tergantung pada tradisi dan preferensi pribadi.

Ketika orang Yahudi berada di Mesir, sebelum adanya Kitab Taurat, mereka bersembahyang di rumah masing-masing atau di lokasi khusus yang digunakan untuk beribadah bersama. Ini mencerminkan ketekunan dan kekhusyukan mereka dalam menjalankan ibadah, bahkan dalam situasi yang berbeda dan di luar Tanah Israel.

Sembahyang disudahi dengan bacaan doa dan munajat kepada Tuhan dengan penuh keihklasan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita telah mengenal tentang cara ibadah agama Yahudi, pengetahuan ini memberikan landasan agar tidak terjadi kesalahpahaman akan praktik ibadah umat Yahudi dan agama Islam yang terbilang hampir sama.

Seiring berjalannya waktu, agama ini tetap kuat dan berpengaruh, menjadikannya salah satu agama tertua dan terpenting di dunia.

Semoga artikel ini telah memberikan wawasan yang lebih baik tentang cara ibadah agama Yahudi.

By Cerita Berkat

Menggali potensi diri dan mengejar kesuksesan dengan mempraktikkan manfaat kebaikan dan menerapkan motto kehidupan inspiratif.