Table of Contents
Wamentan dorong pengetatan impor dan penguatan hilirisasi gula
Jakarta – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan bahwa peningkatan swasembada gula memerlukan penekanan pada produksi lokal. Ia menegaskan bahwa keberhasilan swasembada tergantung pada upaya untuk meningkatkan penanaman, panen, dan hasil produksi. Namun, ada paradoks bahwa meskipun produksi gula dalam negeri terus meningkat, impor masih terjadi sementara produk petani tidak laku di pasar.
Swasembada gula tergantung pada sektor hilir
Sudaryono menyoroti keberadaan gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi, sehingga mengurangi daya saing produk petani. Kebocoran tersebut menekan harga gula di tingkat petani dan mengganggu keseimbangan pasar. Menurutnya, peningkatan sektor hilir adalah langkah strategis untuk memastikan hasil produksi bisa terserap secara optimal dan memberi nilai tambah yang berkelanjutan.
“Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegas Sudaryono.
Pemerintah telah melakukan upaya intensif di sektor hulu untuk meningkatkan produktivitas. Program seperti bongkar ratoon dengan anggaran Rp2,5 triliun serta subsidi pupuk, alat pertanian, dan perluasan areal tanam diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi hingga 1 juta ton. Dengan total intervensi mencapai Rp4 triliun, target tersebut dianggap krusial untuk memperkuat ekonomi nasional.
Sudaryono menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat di sektor hilir, termasuk pengawasan distribusi gula rafinasi. Ia menyambut usulan mengatur tata niaga melalui satu pintu oleh BUMN agar distribusi lebih terkendali. “Dengan pengaturan distribusi melalui BUMN, kita bisa mencegah gula rafinasi membanjiri pasar konsumsi. Ini penting untuk melindungi kepentingan petani,” imbuhnya.
Menurut Sudaryono, peningkatan produksi lokal memiliki dampak lebih luas. Selain mengurangi ketergantungan impor, langkah ini juga meningkatkan kesejahteraan petani dan berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menambahkan bahwa substitusi impor dengan produksi dalam negeri dianggap lebih baik, karena menjamin stabilitas pasar dan pendapatan petani.
Kesiapan Kementerian Pertanian
Sudaryono menyatakan bahwa Kementerian Pertanian siap mewujudkan swasembada pangan, termasuk gula, melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia menekankan pentingnya koordinasi agar semua sektor bekerja secara sinergis untuk mendorong keberlanjutan produksi dan penyerapan hasil pertanian. “Impor bukan hal yang buruk, tetapi jika bisa digantikan dengan produksi lokal, itu jauh lebih baik untuk perekonomian,” ujarnya.
