Table of Contents
Satgas PRR: Praja IPDN Terlibat dalam Pembersihan Situs Sejarah Aceh Tamiang
Jakarta – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mengungkapkan bahwa anggota Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sedang melakukan pembersihan tanah longsor di situs bersejarah Aceh Tamiang. Selama acara pembukaan, salah satu praja bernama I Gusti Ngurah Erlang AW mengungkapkan rasa bangganya terlibat dalam upaya ini.
“Kami merasa diberi tugas melaksanakan misi kemanusiaan. Kami sangat senang dan bangga, apalagi kebanyakan dari kami ini merupakan kesempatan pertama untuk bertugas di Aceh,” katanya.
Situs yang dikerja oleh Praja IPDN adalah Istana Benua Raja, sebuah peninggalan Kerajaan Benua Tunu. Lokasi ini berada di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan menggunakan sekop dan kereta dorong, Erlang berkeliling menyisir setiap sudut lorong bangunan bersejarah tersebut.
Menurut Erlang, tugas mereka melibatkan pembersihan tanah yang mengeras akibat banjir yang melanda Aceh Tamiang akhir November tahun lalu. Meski harus bekerja di bawah sinar matahari terik dan berkeringat, para praja tetap antusias dalam tugas ini. Ini merupakan salah satu titik yang harus dikerjakan pada Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga.
Selain Erlang, 730 praja lain dari kontingen Bali ikut diterjunkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Mereka bertugas membersihkan 42 titik lokasi, termasuk pemukiman warga, saluran drainase, dan jalan desa. Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, meminta praja IPDN bekerja keras mengatasi akibat banjir.
Dalam sambutan saat apel pembukaan di Istana Benua Raja, Tito menjelaskan bahwa 731 praja pada gelombang ketiga difokuskan pada upaya pembersihan lumpur di lingkungan warga. “Target utamanya adalah menyelesaikan masalah yang masih tertutup lumpur, ada yang sudah mengeras, termasuk situs sejarah ini,” katanya.
Tito menambahkan bahwa Aceh Tamiang terkena dampak terberat, khususnya akibat endapan tanah banjir yang mencapai 4 sampai 5 meter. Pembersihan ini bukan hanya sekadar membersihkan tanah, tetapi juga memperkuat komitmen kemanusiaan kepada para korban bencana.
