Table of Contents
BMKG memperingatkan masyarakat hindari bangunan rusak akibat gempa di Malut
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan himbauan kepada penduduk Maluku Utara serta daerah sekitarnya yang terkena dampak gempa untuk menjauhi bangunan dengan kerusakan agar mengurangi risiko runtuhan akibat guncangan berikutnya. Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan di Jakarta, Kamis, bahwa warga harus tetap waspada tetapi tidak perlu panik, serta menghindari struktur bangunan yang mengalami retakan signifikan.
“Jangan terlalu khawatir, tetapi tetap berhati-hati, dan segera menghindari bangunan dengan retakan besar atau struktur rusak,” ujarnya.
Di samping itu, masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan di lereng bukit yang berpotensi longsor karena kondisi tanah yang belum stabil setelah gempa. Pernyataan ini didasari oleh data BMKG yang mencatat 1.378 gempa susulan terjadi hingga Kamis (9/4) pagi, dengan aktivitas seismik yang diperkirakan akan berkurang dalam dua hingga tiga minggu setelah kejadian utama.
Gempa besar berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi di wilayah barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, pada Kamis (2/4). Kekuatan gempa dirasakan di Ternate, Manado, dan Gorontalo dengan intensitas yang berbeda. BMKG mencatat adanya gelombang tsunami di beberapa daerah pesisir, seperti Halmahera Barat sebesar 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, serta Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.
Dari data harian, terlihat tren penurunan frekuensi gempa susulan, mulai dari 394 kejadian pada hari pertama hingga 91 kejadian pada hari keenam, dan 63 kejadian pada hari ketujuh. Dalam peristiwa ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan satu korban jiwa di Kota Manado, satu orang terluka ringan, serta 16 keluarga yang terkena dampak di Kabupaten Minahasa. Selain itu, gempa tektonik menyebabkan kerusakan pada infrastruktur di beberapa wilayah, termasuk Kota Manado, Kabupaten Minahasa, dan Kota Ternate.
