Table of Contents
Mojtaba, Putra Khamenei, Diajukan sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran
TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan militer bersama AS dan Israel, memutus pemerintahan selama 37 tahun dan memicu peralihan kekuasaan yang paling tidak pasti dalam beberapa dekade. Dengan konfirmasi kematian Khamenei, fokus kini bergeser ke Majelis Pakar, lembaga ulama yang secara resmi menentukan calon pemimpin berikutnya. Salah satu nama yang disebut secara langsung adalah Mojtaba Khamenei, putra tertua kedua dari mantan pemimpin.
Kemungkinan Waris yang Dipertanyakan
Mojtaba, yang kerap dikenal sebagai figur berpengaruh di latar belakang dengan ikatan kuat pada lembaga keamanan, dianggap sebagai kandidat potensial oleh sebagian pihak. Namun, statusnya tidak pasti karena Majelis Pakar berada di bawah tekanan untuk memilih sosok yang memenuhi kriteria teologis tinggi, sesuai tradisi yang diwariskan oleh sistem republik Islam.
Riwayat dan Pekerjaan Mojtaba Khamenei
Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran, selain itu aktif dalam militer selama Perang Iran-Irak. Ia dikenal sebagai penjaga gerbang ayahnya, meski tidak termasuk dalam daftar tiga ulama senior yang diidentifikasi Khamenei sebagai penerus tahun lalu. Menurut laporan New York Times, putra Khamenei tersebut justru tidak masuk dalam kandidat utama.
Persyaratan Konstitusional dan Tradisi Keluarga
Konstitusi Republik Islam menetapkan bahwa Majelis Pakar, yang terdiri dari 88 anggota, wajib memilih seorang pemimpin dengan pengalaman politik. Mojtaba, meski memegang posisi tertentu, dinilai tidak memenuhi syarat ini karena tidak memiliki peran resmi dalam pemerintahan. Hal ini bertentangan dengan prinsip Islam Syiah yang menekankan garis keturunan dalam pemilihan pemimpin.
Reaksi Internal dan Tradisi Anti-Suksesi Dinasti
Dalam sejarah, Khamenei sendiri memilih putra Khomeini, Ahmad, sebagai kandidat kepemimpinan, tetapi akhirnya menang atasnya. Peristiwa itu menunjukkan tradisi politik Iran yang cenderung menghindari penurunan kekuasaan melalui keluarga. Lembaga penelitian AS, Stimson Centre, menyebut Khamenei pernah mengkritik kekacauan ketergantungan pada garis keturunan. Selama penyelidikan, Mojtaba sempat dianggap sebagai objek kecurigaan, menurut pernyataan Ayatollah Mahmoud Mohammadi Araghi.
“Pemimpin berkata, ‘Apa yang kalian lakukan menimbulkan kecurigaan tentang masalah kepemimpinan turun-temurun.’ Jadi penyelidikan tidak diizinkan,”
“Dia menjawab, ‘Tidak, akhiri masalah ini,'”
Institut Timur Tengah mengingatkan bahwa ambisi Khamenei untuk mengatur masa depan Republik Islam mungkin menghambat perebutan jabatan oleh Mojtaba. Transisi kekuasaan yang diinginkan Khamenei—dengan memilih calon pengganti sebelum meninggal—akan berubah menjadi proses yang lebih kompleks jika Mojtaba terpilih.
