Table of Contents
Kampung Pekijing Jadi Contoh Perpaduan Aturan dan Budaya Lokal
Kota Serang, Banten, kini menjadi perhatian nasional karena inisiatif yang diambil oleh Kampung Pekijing untuk memperkuat penerapan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perlindungan Anak di Lingkungan Digital atau PP Tunas. Dengan menggabungkan kebijakan pemerintah dan kearifan lokal, kampung ini berhasil mengurangi penggunaan gadget anak-anak melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.
Permainan Tradisional sebagai Solusi Digital
Bayu Ibrahim, Pengelola Perpustakaan Pekijing, mengungkapkan bahwa upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan anak pada media sosial dan gawai di tingkat masyarakat dasar. “Pendekatan melalui permainan tradisional terbukti efektif dalam mendukung tujuan PP Tunas,” jelasnya, Minggu lalu. Dengan menempatkan anak-anak pada aktivitas fisik bersama, keterlibatan mereka di dunia maya dapat dikurangi secara alami.
“Kami bersyukur langkah kami sejalan dengan upaya pemerintah melalui PP Tunas dalam membatasi media sosial. Permainan tradisional terbukti sangat efektif, anak-anak kini lebih asyik bermain bersama secara fisik dan mulai meninggalkan ketergantungan pada HP,” ujar Bayu.
Monitoring Literasi Digital Bersama Orang Tua
Sebagai bentuk pengawasan, perpustakaan juga bekerja sama dengan para orang tua untuk memantau konten yang diakses anak-anak. Tim yang terdiri dari 10 pemuda setempat melakukan pemantauan berkala pada ponsel anak, memastikan mereka tidak terpapar dampak negatif internet atau grup daring yang tidak seharusnya.
Bayu menegaskan bahwa proses ini dilakukan dengan pendekatan persuasif, diimbangi edukasi mengenai manfaat dan risiko teknologi. Setiap tiga bulan sekali, anak-anak diberikan wawasan tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan digital.
Perubahan Nyata dari Keluarga
Dukungan penuh dari orang tua menjadi faktor penting keberhasilan ini. Madi, salah satu warga Kampung Pekijing, menyatakan bahwa perubahan karakter dan akademik anaknya sangat terasa sejak aktif di perpustakaan. “Saya sangat terbantu dengan kegiatan ini. Anak saya kini rajin belajar dan berhasil meraih peringkat di sekolah. Penggunaan HP pun sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya,” kata Madi.
Berkat konsistensi dalam mengawal literasi dan perlindungan anak, Kampung Pekijing telah memperoleh berbagai penghargaan. Selain dinobatkan sebagai Ruang Bersama Indonesia (RBI) pada 2025, kampung ini juga meraih predikat Perpustakaan Desa Terbaik tingkat Provinsi Banten serta menyumbangkan satu pustakawan yang berhasil meraih penghargaan nasional.
Kombinasi antara aturan pemerintah dan warisan budaya lokal di Kampung Pekijing kini menjadi model bagi komunitas yang ingin menciptakan lingkungan sehat bagi pertumbuhan anak di era digital.
