Berikut adalah strategi PGRI dalam menumbuhkan dan merawat semangat kolektifisme di kalangan pendidik:
Table of Contents
1. Menanamkan Identitas “Satu Korps” (Unitaristik)
PGRI adalah organisasi unitaristik yang tidak membeda-bedakan status. Kolektifisme dibangun dengan menghapus sekat-sekat kepegawaian.
-
Simbolisme Pemersatu: Penggunaan seragam batik PGRI dan lagu Mars PGRI bukan sekadar seremonial, melainkan alat psikologis untuk membangkitkan kebanggaan kelompok (esprit de corps).
2. Kolektifisme dalam Perlindungan (Solidaritas Advokasi)
PGRI menerapkan prinsip “Satu tersakiti, semua merasa”. Semangat ini diwujudkan melalui aksi nyata:
-
LKBH sebagai Perisai Bersama: Kehadiran Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum memastikan setiap anggota merasa “dilindungi oleh keluarga besar”, sehingga muncul rasa aman kolektif dalam berinovasi.
3. Kolaborasi Profesional (Bukan Kompetisi)
PGRI menggeser budaya kerja kompetitif menjadi budaya kolaboratif melalui berbagai anak lembaga:
-
APKS (Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis): Guru-guru berkumpul berdasarkan keahlian untuk saling berbagi modul, strategi mengajar, dan tips menghadapi kurikulum baru.
Mekanisme Penguatan Kolektifisme PGRI
| Jalur Penguatan | Aktivitas Utama | Dampak Psikologis |
| Jalur Organisasi | Konferensi dan Rapat Anggota | Menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging). |
| Jalur Sosial | Santunan Sosial dan Dana Kemanusiaan | Mempererat ikatan batin dan empati antar guru. |
| Jalur Intelektual | Seminar dan Workshop Bersama | Menghilangkan perasaan “paling pintar” dan memicu tumbuh bersama. |
4. Kolektifisme di Era Digital (2026)
Di tahun 2026, kolektifisme tidak lagi terbatas pada ruang fisik. PGRI menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan:
-
Komunitas Praktisi Virtual: Memfasilitasi diskusi lintas daerah secara instan untuk memecahkan masalah kelas yang serupa.
-
Crowdsourcing Inovasi: Anggota dapat menyumbangkan ide atau bahan ajar ke platform Smart PGRI untuk digunakan oleh rekan guru lainnya di pelosok nusantara secara cuma-cuma.
5. Menjaga Marwah Organisasi dari Polarisasi
PGRI memastikan kolektifisme tetap murni untuk kepentingan pendidikan. Organisasi secara tegas menjaga jarak dari politik praktis agar tidak terjadi perpecahan anggota akibat perbedaan pilihan politik, sehingga energi kolektif tetap terfokus pada martabat guru.
“Kolektifisme bukan berarti menghilangkan karakter individu, melainkan menggabungkan banyak kekuatan kecil menjadi satu energi besar yang mampu menggerakkan gunung perubahan.”